Just to make you smile.blog

Because of your smile,you make life more beautiful

Hari Ibu

Leave a comment

7

Walau di mana atau siapa pun kita ingatan kepada ibu perlulah sentiasa segar dalam ingatan, tidak kiralah samada mereka masih bersama kita atau sudah tiada. Fikirkanlah, kita berada dalam perut ibu selama 9 bulan dan ibu bertarung nyawa semasa melahirkan kita. Jadi layanlah mereka sebaik mungkin, temanilah mereka sekerap yang boleh dan hargai jasa mereka sepanjang masa. Sentiasalah kita mendoakan ibu kita lebih-lebih lagi jika ibu kita sudah meninggal dunia.
Kemuliaan Ibu dalam Islam
Apabila seseorang perempuan mengandung janin
dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.
Allah SWT. mencatatkan baginya setiap hari dengan
1.000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.
Dua rakaat sholat wanita yang hamil lebih baik dari delapan puluh
rakaat sholat wanita yang tidak hamil.Wanita yang hamil
dapat pahala puasa di siang hari dan pahala ibadat di malam hari.
Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin,
maka Allah SWT. mencatatkan baginya pahala orang yang
berjihad pada jalan Allah SWT.Wanita yang bersalin dapat
pahala tujuh puluh tahun sholat dan puasa serta setiap kesakitan
pada satu uratnya, insyaa Allah bagai mendapat satu pahala haji.
Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia
dari dosa-dosa seperti saat ibunya melahirkannya.
Sekiranya wanita meninggal dunia dalam masa empat puluh hari
selepas bersalin ia dianggap sebagai mati syahid.
Wanita yang beri minum susu badannya kepada anaknya
akan dapat satu pahala dari pada tiap titik susu yang diberikannya.
Wanita yang beri minum susu badannya kepada anaknya yang menangis
maka Allah beri pahala satu tahun pahala sholat dan puasa.
Kalau wanita menyusui anaknya hingga cukup tempo dua setengah tahun
maka malaikat di langit khabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.
Seorang ibu yang menghabiskan masa malamnya dengan tidur yang tidak selesai
karena menjaga anaknya yang sakit dapat pahala seperti membebaskan
dua puluh orang hamba.
Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anaknya
yang sakit akan di ampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan
bila dia hiburkan hati anaknya Allah beri dua belas tahun pahala ibadah.
HUKUM MERAYAKAN HARI IBU
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut dengan istilah hari ibu, yaitu pada tanggal 21 Maret. Pada hari itu banyak orang yang merayakannya. Apakah ini halal atau haram. Dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?
Jawaban
Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyari’atkan adalah bid’ah dan tidak pernah dikenal pada masa para salafus shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non muslim, jika demikian, maka di samping itu bid’ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari raya-hari raya yang disyari’atkan telah diketahui oleh kaurn muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha serta hari raya mingguan (hari Jum’at). Selain yang tiga ini tidak ada hari raya lain dalam Islam. Semua hari raya selain itu ditolak kepada pelakunya dan bathil dalam hukum syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.”[1]
Yakni ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lainnya disebutkan,
“Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.”[2]
Kerana itu, maka tidak boleh merayakan hari yang disebutkan oleh penanya, yaitu yang disebutkan sebagai hari ibu, dan tidak boleh juga mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaannya, seperti; menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan, memberikan hadiah-hadiah dan sebagainya.
Hendaknya setiap muslim merasa mulia dan bangga dengan agamanya serta merasa cukup dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya dalam agama yang lurus ini dan telah diridhai Allah untuk para hambahNya. Maka hendaknya tidak menambahi dan tidak mengurangi. Kemudian dari itu, hendaknya setiap muslim tidak menjadi pengekor yang menirukan setiap ajakan, bahkan seharusnya, dengan menjalankan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala, pribadinya menjadi panutan yang ditiru, bukan yang meniru, sehingga menjadi suri teladan dan bukan penjiplak, karena alhamdulillah, syari’at Allah itu sungguh sempurna dari segala sisinya, sebagaimana firmanNya,
“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. ” [Al-Ma’idah: 3]
Seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari itu saja, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta dita’ati selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, di setiap waktu dan tempat.
Nur ‘ala Ad-Darb, Maktabah Adh-Dhiya’, hal. 34-35, Syaikh Ibnu Utsaimin.
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini Lc Penerbit Darul Haq]
__________
Video di bawah mengingatkan saya pada arwah ibu saya.Walaupun saya bukan seperti watak2 dibawah ini, 
v=S3h5g37Z7DY
Dan dibawah ini adalah klip video nyanyian Mamat 
Sedih hu,hu,hu…
Kemuliaan Ibu dalam Islam
Apabila seseorang perempuan mengandung janin
dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya.
Allah SWT. mencatatkan baginya setiap hari dengan
1.000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.
Dua rakaat sholat wanita yang hamil lebih baik dari delapan puluh
rakaat sholat wanita yang tidak hamil.Wanita yang hamil
dapat pahala puasa di siang hari dan pahala ibadat di malam hari.
Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin,
maka Allah SWT. mencatatkan baginya pahala orang yang
berjihad pada jalan Allah SWT.Wanita yang bersalin dapat
pahala tujuh puluh tahun sholat dan puasa serta setiap kesakitan
pada satu uratnya, insyaa Allah bagai mendapat satu pahala haji.
Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia
dari dosa-dosa seperti saat ibunya melahirkannya.
Sekiranya wanita meninggal dunia dalam masa empat puluh hari
selepas bersalin ia dianggap sebagai mati syahid.
Wanita yang beri minum susu badannya kepada anaknya
akan dapat satu pahala dari pada tiap titik susu yang diberikannya.
Wanita yang beri minum susu badannya kepada anaknya yang menangis
maka Allah beri pahala satu tahun pahala sholat dan puasa.
Kalau wanita menyusui anaknya hingga cukup tempo dua setengah tahun
maka malaikat di langit khabarkan berita bahwa syurga wajib baginya.
Seorang ibu yang menghabiskan masa malamnya dengan tidur yang tidak selesai
karena menjaga anaknya yang sakit dapat pahala seperti membebaskan
dua puluh orang hamba.
Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anaknya
yang sakit akan di ampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan
bila dia hiburkan hati anaknya Allah beri dua belas tahun pahala ibadah.
HUKUM MERAYAKAN HARI IBU
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Kebiasaan kami, pada setiap tahun merayakan hari khusus yang disebut dengan istilah hari ibu, yaitu pada tanggal 21 Maret. Pada hari itu banyak orang yang merayakannya. Apakah ini halal atau haram. Dan apakah kita harus pula merayakannya dan memberikan hadiah-hadiah?
Jawaban
Semua perayaan yang bertentangan dengan hari raya yang disyari’atkan adalah bid’ah dan tidak pernah dikenal pada masa para salafus shalih. Bisa jadi perayaan itu bermula dari non muslim, jika demikian, maka di samping itu bid’ah, juga berarti tasyabbuh (menyerupai) musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hari raya-hari raya yang disyari’atkan telah diketahui oleh kaurn muslimin, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha serta hari raya mingguan (hari Jum’at). Selain yang tiga ini tidak ada hari raya lain dalam Islam. Semua hari raya selain itu ditolak kepada pelakunya dan bathil dalam hukum syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak.”[1]
Yakni ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lainnya disebutkan,
“Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka ia tertolak.”[2]
Kerana itu, maka tidak boleh merayakan hari yang disebutkan oleh penanya, yaitu yang disebutkan sebagai hari ibu, dan tidak boleh juga mengadakan sesuatu yang menunjukkan simbol perayaannya, seperti; menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan, memberikan hadiah-hadiah dan sebagainya.
Hendaknya setiap muslim merasa mulia dan bangga dengan agamanya serta merasa cukup dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya dalam agama yang lurus ini dan telah diridhai Allah untuk para hambahNya. Maka hendaknya tidak menambahi dan tidak mengurangi. Kemudian dari itu, hendaknya setiap muslim tidak menjadi pengekor yang menirukan setiap ajakan, bahkan seharusnya, dengan menjalankan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala, pribadinya menjadi panutan yang ditiru, bukan yang meniru, sehingga menjadi suri teladan dan bukan penjiplak, karena alhamdulillah, syari’at Allah itu sungguh sempurna dari segala sisinya, sebagaimana firmanNya,
“Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. ” [Al-Ma’idah: 3]
Seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari itu saja, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta dita’ati selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, di setiap waktu dan tempat.
Nur ‘ala Ad-Darb, Maktabah Adh-Dhiya’, hal. 34-35, Syaikh Ibnu Utsaimin.
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Musthofa Aini Lc Penerbit Darul Haq]
__________
Advertisements

Author: anayusof

A mother to two adorable kids.Working in an engineering consultation firm. Masih baru dalam dunia blogging.Cantik tiada tapi manis ada..he,he,he

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s